STRUKTUR ATOM-2
MATERI AJAR
BAB 2 — STRUKTUR ATOM
PERTEMUAN 2 — KONFIGURASI ELEKTRON DAN ELEKTRON VALENSI
Tujuan Pembelajaran
• Murid mampu
menuliskan konfigurasi elektron berdasarkan Prinsip Aufbau dan Kaidah Hund
(Mekanika Kuantum).
• Murid mampu
menentukan elektron valensi dan mengaitkannya dengan kestabilan atom (Cinta
Diri Sendiri).
A. Pendahuluan
(Apersepsi)
Pada pertemuan sebelumnya, kita sudah
tahu bahwa elektron mengelilingi inti atom. Tapi, apakah elektron-elektron itu
berkeliaran secara sembarangan? Ternyata tidak! Elektron menempati
posisi-posisi tertentu dengan aturan yang sangat teratur, mirip seperti
penonton yang mengisi kursi bioskop dari baris depan (paling dekat layar/energi
rendah) sebelum mengisi baris belakang. Aturan pengisian inilah yang disebut
konfigurasi elektron. Memahami konfigurasi elektron sangat penting, karena dari
sinilah kita bisa memprediksi sifat kimia suatu unsur — termasuk mengapa
beberapa unsur sangat mudah bereaksi sementara yang lain sangat stabil (seperti
gas mulia).
B. Isi Materi
1. Kulit Atom
(Model Bohr)
Dalam model Bohr, elektron menempati
kulit-kulit atom yang diberi nama K, L, M, N, dan seterusnya, dihitung dari
yang paling dekat dengan inti. Setiap kulit memiliki daya tampung maksimum
elektron yang dihitung dengan rumus 2n² (n = nomor kulit).
|
Kulit |
Nomor Kulit
(n) |
Daya
Tampung Maksimum (2n²) |
|
K |
1 |
2 |
|
L |
2 |
8 |
|
M |
3 |
18 (sebagai kulit
terluar, cenderung maksimal 8) |
|
N |
4 |
32 |
Contoh: Atom Natrium (Na, Z=11) memiliki
11 elektron yang mengisi kulit sebagai berikut: kulit K terisi 2 elektron
(penuh), kulit L terisi 8 elektron (penuh), dan sisanya 1 elektron mengisi
kulit M. Maka konfigurasi elektron Na adalah 2, 8, 1.
2. Subkulit dan
Prinsip Aufbau
Model mekanika kuantum menjelaskan bahwa
setiap kulit sebenarnya terbagi lagi menjadi subkulit yang diberi lambang s, p,
d, dan f, masing-masing dengan daya tampung maksimum berbeda: subkulit s
maksimal 2 elektron, subkulit p maksimal 6 elektron, subkulit d maksimal 10
elektron, dan subkulit f maksimal 14 elektron.
Prinsip Aufbau (berasal dari bahasa
Jerman, artinya 'membangun') menyatakan bahwa elektron mengisi subkulit dengan
tingkat energi terendah terlebih dahulu, mengikuti urutan berikut:
|
1s → 2s →
2p → 3s → 3p → 4s → 3d → 4p → 5s → 4d → 5p → 6s → 4f → 5d → 6p → ... |
Perhatikan
bahwa urutan ini tidak selalu mengikuti urutan nomor kulit secara berurutan —
misalnya, subkulit 4s diisi sebelum 3d, meskipun angka 3 lebih kecil dari 4! Ini karena
tingkat energi 4s sedikit lebih rendah daripada 3d.
Contoh: Konfigurasi elektron subkulit
untuk atom Natrium (Na, Z=11) dituliskan sebagai: 1s² 2s² 2p⁶ 3s¹ (dibaca:
subkulit 1s berisi 2 elektron, 2s berisi 2 elektron, 2p berisi 6 elektron, dan
3s berisi 1 elektron; totalnya 2+2+6+1 = 11 elektron, sesuai dengan nomor atom
Na).
3. Kaidah Hund
Kaidah Hund menjelaskan cara elektron
mengisi orbital-orbital pada subkulit yang memiliki lebih dari satu orbital
berenergi sama (misalnya subkulit p yang memiliki 3 orbital, atau subkulit d
yang memiliki 5 orbital). Aturannya: elektron akan mengisi setiap orbital satu
per satu dengan arah spin yang sama (sejajar) terlebih dahulu, sebelum ada yang
mulai berpasangan pada orbital yang sama.
Analogi sederhana: bayangkan tiga bangku
kosong berdampingan di sebuah ruang tunggu. Jika ada 4 orang yang datang satu
per satu, kebiasaan yang wajar adalah masing-masing memilih bangku kosong
terlebih dahulu (agar leluasa), dan baru mau berbagi satu bangku jika seluruh
bangku sudah terisi satu orang. Begitu pula elektron pada subkulit p atau d —
mereka 'menghindar' berpasangan selama masih ada orbital kosong.
Contoh:
Atom Oksigen (O, Z=8) memiliki konfigurasi 1s² 2s² 2p⁴. Empat elektron pada
subkulit 2p (yang memiliki 3 orbital: px, py, pz) akan tersusun sebagai berikut
— satu elektron mengisi px, satu mengisi py, satu mengisi pz (ketiganya spin
sejajar), baru elektron ke-4 berpasangan pada salah satu orbital (misalnya px).
4. Elektron
Valensi dan Kestabilan Atom
Elektron valensi adalah elektron-elektron
pada kulit terluar suatu atom (subkulit dengan bilangan kuantum utama
tertinggi, ditambah subkulit d yang belum penuh untuk unsur transisi). Elektron
valensi inilah yang berperan aktif menentukan bagaimana suatu unsur bereaksi
secara kimia dengan unsur lain, karena elektron inilah yang paling mudah
dipakai untuk berikatan.
Sebagian besar atom 'berusaha' mencapai
konfigurasi elektron yang stabil, yaitu memiliki 8 elektron valensi (Kaidah
Oktet) seperti gas mulia, atau 2 elektron valensi untuk atom berkulit tunggal
seperti Helium (Kaidah Duplet). Untuk mencapai kestabilan ini, atom dapat
melepaskan, menerima, atau berbagi elektron valensinya — inilah dasar dari
terbentuknya ikatan kimia yang akan kamu pelajari lebih lanjut pada bab
berikutnya.
Contoh: Atom Klorin (Cl, Z=17) memiliki
konfigurasi 1s² 2s² 2p⁶ 3s² 3p⁵, sehingga elektron valensinya berjumlah 7 (dari
3s² 3p⁵). Karena hanya kekurangan 1 elektron untuk mencapai oktet, Cl sangat
'ingin' menangkap 1 elektron dari atom lain, sehingga Cl sangat reaktif.
C. Rangkuman
• Elektron
menempati kulit (K, L, M, N) dengan daya tampung maksimum 2n², atau subkulit
(s, p, d, f) dengan daya tampung 2, 6, 10, 14.
•
Prinsip
Aufbau: elektron mengisi subkulit berenergi rendah terlebih dahulu, urutan 1s
2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p ...
• Kaidah Hund:
elektron mengisi orbital kosong satu per satu (spin sejajar) sebelum
berpasangan.
• Elektron
valensi = elektron kulit terluar, menentukan kestabilan dan sifat kimia atom
(Kaidah Oktet/Duplet).
|
Renungan
(Cinta Diri Sendiri) |
|
Sama
seperti atom yang senantiasa mencari susunan paling stabil agar tidak mudah
'terganggu', kita sebagai manusia juga perlu mencari keseimbangan dan
kestabilan dalam diri — mengenal kekuatan dan keterbatasan diri, agar tetap
tenang dan seimbang menghadapi berbagai situasi. |

Tidak ada komentar